Senin, 08 Juni 2015

Belajar Mengoperasikan Bilangan dari Kehidupan Sehari-hari

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh kebanyakan anak. Bahkan tidak sedikit anak yang mengaku membenci dan takut dengan matematika. Padahal, Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional. Hal ini tentunya berpengaruh dengan minat belajar matematika anak yang pada akhirnya berdampak pada hasil belajar anak. selain  minat belajar, perhatian orang tua juga berpengaruh dalam proses belajar siswa.
Permasalahan matematika ini terjadi di SD N Banteng yang berlokasi di Jalan Kaliurang Km.22,5 Hargobinangun Pakem. Dari hasil Ujian Nasional tahun 2012, 2013, dan 2014 siswa
SD N Banteng terlihat bahwa rata-rata nilai Matematika siswa rendah jika dibandingkan dengan rata-rata nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia dan IPA. setelah melakukan wawancara dengan kepala sekolah SD Banteng terkait hal tersebut, Beliau menuturkan bahwa rendahnya nilai Matematika siswa tidak hanya terjadi pada nilai Ujian Nasional saja namun nilai ulangan harian matematika siswa pun rendah. Menurut Ibu Theresia suntari selaku Kepala sekolah SD N Banteng, rendahnya nilai Matematika siswa disebabkan kurangnya kemampuan siswa dalam mengoperasikan bilangan (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). siswa kesulitan dalam memahami konsep operasi bilangan terutama perkalian, pembagian, serta operasi campuran. selain itu, kurangnya dampingan dari orangtua siswa dirumah juga mempengaruhi minat siswa untuk belajar terutama belajar matematika. Pekerjaan orangtua siswa yang sebagian besar adalah penambang pasir, buruh, dan petani, membuat mereka tidak memiliki waktu untuk mendampingi siswa dalam belajar maupun mengerjakan PR atau hanya sekedar untuk mengecek buku anak mereka.
Berdasarkan permasalah tersebut, kami  merasa prihatin dan tergerak untuk membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan mengoperasikan bilangan menggunakan pendekatan matematika realistik. Kami memberikan bimbingan belajar kepada siswa kelas III, IV, dan V yang kami adakan setiap hari Senin dan Sabtu. Bimbingan belajar yang kami lakukan menggunakan pendekatan matematika realistik yang kami sesuaikan dengan keadaan serta budaya masyarakat di lereng merapi. Kami menggunakan benda-benda konkrit seperti kelereng, kerikil, biji-bijian serta makanan tradisional yang sering dijumpai yaitu; jadah, tempe, sagon, apem, slondok renteng, tahu bacem dan permen. Dengan menggunakan media berupa benda-benda konkrit ini, siswa antusias untuk belajar matematika terutama operasi bilangan.